Senin, Agustus 02, 2010

Mak, Apakabar Disana?

Komplek Makam Mantingan
di tempat batu itu, Ibu dikebumikan..

Suatu malam yang sunyi, suara lirih seorang ibu memanggil anaknya. seorang ibu yang sedang mencoba melawan komplikasi penyakit yang dideritanya. si anak mencoba menenangkan ibu yang terus menahan penyakitnya yang sedang kambuh malam itu.

Permintaan ibu saat itu, supaya anaknya tidur bersamanya dikamar untuk menemani, meringankan penderitaan. sayang, anaknya tidak mengabulkan permintaan ibu karena melihat kondisi kamar yang kurang longgar dan cenderung panas, nantinya takut terasa sumpek dan membuat sirkulasi udara kurang segar dan susah bernafas. dan si anak memohon untuk tidur diluar pintu saja, diatas kursi hongkong (nama kursi, bukan nama negara).

Pagipun datang, dan ibu masih saja seperti semalam yang menahan rintih penyakitnya, kemudian kami periksakan ke dokter pagi hari.
dalam kondisi demikian harusnya ibu menjalani rawat inap, namun karena ibu yang keukeh dan tak mau untuk tinggal di rumah sakit. "nek aku lungo, aku lungo ko omahku dewe..." kata ibu berulang-ulang. dan anak-anaknya hanya bisa mengabulkan dengan meng-iyakan agar tenang.

Sepagian sampai siang, ibu banyak mengobrol tentang keluh-kesah beberapa hal, tentang masalah-masalah yang ibu susah menerima, sedikit demi sedikit sang anak terus menenangkan ibu, sambil terus berusaha memahamkan ibu untuk meng-ikhlaskan apa yang menjadi ganjalan ibu.
disamping itu si anak terus menerus merayu ibunya untuk mau mondok dirumah sakit. setelah ibu mau menerima dan mengikhlaskan semuanya, menjelang siang akhirnya ibu menuruti keinginan anak yang memang paling disayang diantara yang lain. karena siang yang begitu terik nan menyengat, akhirnya ibu dijanjikan untuk ke rumah sakit sore hari. berharap angin sore lebih bersahabat dan bisa lebih nyaman untuk perasaan ibu.
sesaat setelah tenang, ibu diminta untuk beristirahat, berharap supaya lebih baik sore nanti. dan lagi-lagi ibu menuruti kata putra tersayangnya.

***

Pukul 14.30, saya keluar rumah untuk menengok tempat kerja sepupu yang tak jauh dari rumah, sesaat adzan Ashar berkumandang, saya kembali kerumah untuk menunaikan kewajiban shalat ashar. saya-pun menengok ibu yang masih istirahat dengan mengulum senyum, tenang.
kemudian saya kembali ketempat bongkar kayu sepupu lagi, tak lama setelah itu saya ditelfon dari rumah, untuk segera kembali ke rumah. suara genting mbak alfi menandakan duka.

sampai dirumah beberapa saudara sudah ramai bermuka sembab, membaca Yaasin dan dedoaan, terlihat ibu sudah terbujur membisu, besedekap tak menjawab suara tanyaku. saudara dekat-jauh mulai berdatangan, sanak saudara kecil-dewasa mengumamkan tangis kehilangan. suara-suara itu tak lagi terdengar... ternyata istiratat ibu siang itu untuk selamanya.

aku menyesali diri, kenapa tak kutemani ibu terus-menerus sedari pagi.. kenapa aku harus meminta ibu untuk istirahat... kenapa.. kenapa ibu harus pergi disaat aku baru datang... kenapa ibu meninggalkanku disaat kangen belum terobati...

Suatu sore yang tak terlupakan di Mantingan, Jepara 23 Sya'ban 1429 H. 25 Agustus 2008 seminggu menjelang Bulan Ramadhan. ketika malam menangisi kepergian ibu, gerimis malam itupun tak pernah terhapus dari ingatan.

...Mak, Apakabar disana? Adakah kau rindu aku, anak tersayangmu..?

0 Komentar:

Posting Komentar

baiknya anda menggunakan browser mozilla
makasih telah membuang waktu anda mampir kesini.. :)